SELAMAT DATANG DI PERSINGGAHAN RINDU
Sekedar persinggahan, untuk melunaskan segala kerinduan. Terinspirasi kata-kata seorang teman "Menulislah sebelum mati" salah satu kontruksi dari persinggahan ini.

Rabu, 09 Desember 2009

BERPIKIR DAN BERTINDAK

Setiap Kesandung kita mengaduh,Setiap datang maslah mengeluh, setiap mengalami kegagalan kita selalu mencari alasan pembenaran....
Kita jadi lebih sibuk mengaduh, mengeluh dan mencari alasan-alasan pembenaran untuk diri kita daripada BERPIKIR DAN BERTINDAK menyelesaikan setiap tantangan yang datang...
*ray

Selasa, 08 Desember 2009

Tentang Sebuah Kota [2]


Kota ini telah berpinak prahara
Diseluruh penjuru...

Di sudut-sudut kota penuh luka, berlipat duka...

Angin kencang berhembus
Mengusung rindu kerontang

Berserakan...

Menghantar rintihnya yang mengekang
Tatkala rindu sungguh mengharu
Selalu, lelaki mengajari merajah rindu...


“Kang mas... Penyakit aneh ini telah sedemikian hingga menggerogoti tubuhku. Aku membenci meskipun indahnya aku rindu... Biarkan aku membawanya pulang ke desa menemaniku diujung senja...” perempuan ini berucap lirih

Tercekat, segala yang dikenai waktu terhenti.....!

“Kang mas... Kau lihatlah! Aku kini dibawah bintang.. Tak peduli ia sembunyikan wajahnya, aku merasakan hangatnya...” begitulah perempuan ini memupuri diri

Di belantara sunyi hamparan ilalang...
Rindu merobek-robek palung hati
Tentang sebuah kota, lukisan di satu purnama

Dimana pernikahan sunyi seharusnya terjadi...

02 Oktober 2009

Tentang Sebuah Kota [1]


Berbagai malam telah kita lewatkan, di sebuah kota

Memagut mimpi bersimbah peluh
Membendung luka
Mengapungkan keluh dan nestapa dibening telaga

Membentang harap yang membuncah
Malam-malam terkikis, habis..
Oleh gelak-cumbu kata kita

Di sebuah kota
Kau beri aku sebuah lukisan disatu purnama
Keindahan yang begitu nyata
Dan aku telah membingkainya dengan altar cinta
Hingga dipetikan waktu....
Kau meminangku

Keelokan itu selalu terjaga...

29 September 2009

Diambang Bulan


Diselongsong sunyi hamparan batu nisan
Memanggil padu nama
Terbujur dikeabadian
Kala engkau berpulang

Menyulut nyala nyalimu dgn bara yg membiru...
Menjaga cinta Hingga menuju yang Maha Cinta

Kesekian kali diambang bulanNya
Jalan itu masih memerah
Rangkaian bunga para peziarah
Tak jua menghapus anyir itu...

Hanyalah nama tersangkut di kelopak-kelopak bunga kamboja....
Mewangilah
Merekahkan jiwa-jiwa yang lelah...



[semoga bijaklah para pecinta]
Kediri, 9 Ramadhan 1430 H

Menatapmu




Beribu kata tak terangkum melebur dalam DIAM...


Getir berderit...

Senyap menyayat
Menyusul pergimu....


Diparuh waktuku
Hanya bisa menatapmu...


kau
perempuanku...